Hikikomori, sebuah fenomena masyarakat yang sedang menjadi masalah di Jepang. Secara etimologi, termonologi asal kata hikikomori 「ひきこもり」terdiri dari kata hiki dan komori. Hiki/hiku 「引く」berarti  menarik, sedangkan komori/komoru 「籠る」berarti menutup diri atau mengurung diri. Secara singkat hikikomori dapat didefinisikan sebagai ”seseorang yang menutup diri dan mengurung diri dari lingkungan sekitarnya”.hikikomori adalah suatu gejala dimana pelakunya mengurung diri  lebih dari enam bulan di dalam kamar tanpa bersosialisasi dengan dunia pekerjaan dan sekolah, dan hanya berhubungan dengan keluarga. 

Sejarah Hikikomori

Tahun1990 - 2000-an, sebuah penyakit sosial baru yang unik ditemukan di Jepang. Hikikomori, istilah tesebut diajukan oleh Tamaki Saito, seorang psikolog Jepang, untuk menyebut sebuah sindrom yang mengarah pada penarikan diri total di kalangan remaja Jepang. Menteri kesehatan Jepang mendefinisikan seorang hikikomori sebagai seseorang yang menolak untuk keluar dari rumah kedua orangtuanya dan mengisolasi diri mereka dari lingkungan sekitarnya sedikitnya selama enam bulan. Masa hikikomori bervariasi tergantung individu bersangkutan, beberapa remaja tetap mengisolasi diri mereka selama beberapa tahun, bahkan pada beberapa kasus hingga beberapa dekade.

Hikikomori berawal dari Tokokyohi ( penolakan sekolah ), Otakuzoku ( penggila manga dan anime ) dan kemakmuran ekonomi dan kemajuan teknologi yang mengubah keadaan sosial di Jepang.
Hikikomori lebih sering ditemukan pada keluarga menengah ke atas, biasanya menimpa anak laki-laki tertua. Ada sekitar 80% pelaku hikikomori merupakan laki-laki dan 20% perempuan. Belum ada data statistik resmi mengenai jumlah hikikomori, namun dipekirakan bahwa lebih dari satu juta remaja Jepang pernah atau sedang melakukan hikikomori.

Dalam suatu penelitian, distribusi usia seseorang yang melakukan hikikomori, sebagai berikut:

Usia ( tahun )       Prosentase
10-15                    8,4 %
16-20                    19,8 %
21-25                    20,8 %
26-30                    18,2 %
31-35                    10,2 %
36 ke atas              8,6 %
Tidak diketahui     14,1 %

Sebuah survey dilakukan untuk mengetahui berapa lama biasanya seseorang mengisolasi diri mereka, dan hasilnya sebagai berikut:

Waktu                   Prosentase
6 bulan-1 tahun    17,9 %
1-3 tahun              25,3 %
3-5 tahun              14,7 %
5-7 tahun              9,7 %
7-10 tahun            5,9 %
10 tahun ke atas   7,7 %
Tidak diketahui    17,8 %

Ciri-ciri Hikikomori

  • Dia tidak pernah atau jarang keluar dari kamar/tempat tinggalnya selama 6 bulan, kecuali untuk cari makan atau belanja kebutuhan sehari-hari.
  • Jarang dan hampir tidak pernah bersosialisasi atau berinteraksi dengan orang lain.
  • Cenderung menyukai manga atu anime.
  • Menghabiskan waktunya dengan main game seperti PS atau komputer di dalam kamar.
  • Hanya bergaul dengan orang-orang didunia maya seperti di chat-chat online atau game-game online.

Penyebab Hikikomori

Kekayaan Keluarga
Keluarga dari kelas menengah biasanya mengijinkan anak-anaknya yang sudah dewasa untuk tinggal di rumah saja. Korban hikikomori bisa dengan leluasa tinggal di rumah, bermain video game, dan menonton televisi. Keluarga dengan pendapatan yang lebih rendah tidak memiliki anak hikikomori karena biasanya mereka mendorong anaknya untuk bekerja di luar rumah.

Ambiguitas peran Laki-laki
Remaja laki-laki merasa tidak yakin dengan masa depannya dan tidak mempunyai model dalam perannya sebagai laki-laki.

Ijime (bullying)
Kekerasan oleh teman-teman sekolah. Seperti pepatah jepang, paku yang menonjol akan dipalu untuk menjadi seragam, seorang hikikomori yang biasanya memiliki kelebihan dibandingkan dengan teman-temannya, akan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman-temannya.

Tokokyohi
Penolakan bersekolah. Hal ini diindikasikan dengan absen dari sekolah selama 50 hari atau lebih.

Tekanan Akademik di Sekolah
Sistem pendidikan di Jepang, seperti halnya di China, Singapura, dan Taiwan memiliki tingkat persaingan yang sangat tinggi dan ketat. Penetapan ’grade’ yang tinggi dan tidak adanya kesempatan kedua bagi seseorang yang gagal dalam ujian, sangat berpengaruh terhadap kondisi mental remaja Jepang.

Visibilitas Media
Sorotan media yang terlalu berlebihan terhadap fenomena hikikomori menyebabkan semakin mengemulasi jumlah korban serius.

Harapan-Harapan Orangtua
Adanya harapan-harapan yang digantungkan pada remaja kelas menengah agar meraih kesuksesan dalam hidup, adapun yang dimaksud kesuksesan adalah mendapat pendidikan di tempat yang prestisius kemudian setelah lulus mendapatkan karir yang prestisius pula.

Hubungan Ibu-Anak
Di Jepang, ibu dan anak memiliki hubungan simbiotik. Seorang ibu akan mengurus anaknya sampai anaknya berusia 30 atau 40 tahun.

Kamar anak
Di Jepang, bagi orangtua kamar anak merupakan tempat paling keramat. Sangatlah normal jika orangtua tidak bertemu samasekali dengan anaknya dalam satu hari. Komunikasi yang kurang dapat semakin memperparah penarikan diri remaja hikikomori.

Internet
Ketertarikan mereka dalam dunia maya(game online,social network,manga,anime dll) melebihi dunia nyata, sehingga mereka lebih memilih melakukan kegiatan-kegiatan yang mereka sukai tersebut di bandingkan bersosialisasi di dunia nyata.

Pola Hidup Hikikomori
   
     Pola hidup pelaku hikikomori berbeda dari orang kebanyakan berbeda dengan pola hidup manusia pada umumnya. Di saat orang normal beraktivitas di siang hari, pelaku hikikomori justru tidur dan bangun pada malam hari. Hikikomori seringkali mengatur jadwal tidur mereka, biasanya mereka bangun pada sore hari dan pergi tidur menjelang pagi. Mereka memiliki jam tidur yang panjang pada siang hari, dan pada malam hari mereka menghabiskan waktu dengan menonton TV, menggambar, bermain game komputer, surfing internet, membaca, mendengarkan musik, dan hanya sekedar bengong di kamarnya. Karena hikikomori lebih menyukai aktivitas indoor daripada aktivitas outdoor, maka mereka lebih memilih untuk melakukan aktivitasnya pada malam hari. Mereka tidak pernah bergaul dan berkomunikasi dengan orang lain, karena itu mereka tidak memiliki teman. Mereka jarang sekali keluar, mereka hanya akan keluar pada malam hari yang sepi untuk membeli keperluan sehari-harinya. Itu pun tidak dilakukannya setiap hari. Biasanya satu kali dalam satu bulan.

    Para pelaku hikikomori memilih gaya hidup seperti itu sebagai usaha untuk menghindari perasaan-perasaan gelisah, tegang, dan rendah diri ketika berada di tempat ramai.Hikikomori sering ditemukan pada keluarga menengah atas. Jadi hidup mereka bergantung pada orang tua. Itu juga menjadi faktor kenapa mereka betah menjadi hikikomori. Mereka bisa mendapat uang dan makan tanpa harus susah payah bekerja untuk mendapatkan uang.

    Akan tetapi ada juga hikikomori dari keluarga berekonomi rendah. Mereka tidak bisa mengandalkan uang dari orang tua mereka untuk bertahan hidup. mereka bekerja  bikin doujin, komik atau dari game (Orang-orang hikikomori itu sering berinteraksi lewat internet) jadi umumnya mereka jago dalam game-game. Mereka bisa melakukan online trading barang-barang game.



Penanganan Hikikomori

Di Jepang mulai muncul institusi-institusi yang menangani hikikomori dengan cara penanganan dati sudut pandang sosial atau sudut pandang psikologi
  • Penanganan melalui pendekatan psikologi dapat melalui konsultasi dengan pakar psikolog di sebuah rumah sakit atau institusi tertentu. Sadatsugu Kudo seorang psikolog Jepang membuka sebuah lembaga sosial bernama Youth Support Center dan tiap tahunnya terdapat 1500 keluarga pelaku hikikomori menelpon untuk meminta bantuan. Selain Sadatsugu Kudo mulai bermunculan intitusi lain yang melakukan hal serupa seperti lembaga sosial bernama New Start. Para konsuler yang disebut ’rental sister’ atau ’rental brother’ akan mendatangi rumah pelaku hikikomori, konsuler akan berinteraksi langsung dengan para korban sebagai proses penyembuhan untuk bisa membuat para korban membuang gaya hidup mereka sebagai hikikomori.
  • Sedangkan penanganan secara sosial lebih menekankan pada perubahan lingkungan tempat pelaku hikikomori tinggal. Seperti yang dilakukan NHK, sebuah stasiun televisi Jepang, membuat sebuah perkumpulan tempat pelaku hikikomori berkumpul berama yang dinamakan Daycare. Di Daycare pelaku hikikomori akan berinterkasi dengan pelaku hikikomori lainnya dan diharapkan untuk dapat kembali ke masyarakat semula. Selain itu, NHK juga membuat sebuah homepage yang khusus membahas hikikomori. Dalam hompage tersebut diberi penjelasan singkat yang dibuat  untuk memotivasi agar pelaku hikikomori atau keluarganya tidak takut untuk berkonsultasi.

NIHON CLUB Indonesia